Jumat, 07 Juni 2013

Jack Lesmana

Jack Lesmana terlahir dengan nama Jack Lemmers dari ayah seorang Madura dan ibu yang berdarah campuran Jawa dan Belanda. Ia menggunakan nama "Lemmers", mengikuti nama ayahnya yang diadopsi oleh seorang Belanda. Ayah Jack adalah penggemar biola, sementara ibunya pernah menjadi penyanyi dan penari dalam kelompok opera Miss Riboet. Pada usia 10 tahun Jack telah pandai bermain gitar. Dua tahun kemudian ia berkenalan dengan musik jazz dengan bermain dalam sebuah kelompok musik Dixieland. Pada usia 15 tahun, ia pernah bergabung sebagai gitaris pada grup musik Berger Quartet yang terdiri dari Berger (piano), Putirai (drum), dan Jumono (bass). Ia juga ikut memainkan boogie-woogie bersama Boogie-Woogie Rhytmics dengan para pemusik antara lain : Micki Wyt sebagai pemimpin dan pemain piano, Oei Boeng Leng (gitar), Jack Lesmana memainkan (bass) dan Benny Heynen (klarinet). Setelah itu bersama Maryono (klarinet), Andy Sayifin (saksofon alto), Lody Item (gitar, ayah dari musisi Jopie Item), Suwarto (piano), Tuharjo dan Kadam (trompet), bergabung dalam band Irama Samudra. Kemudian bersama Maryono dan Bubi Chen, Jack Lesmana mendirikan Jack Lemmers Quartet, yang kemudian pada akhirnya diubah namanya menjadi Jack Lesmana Quintet. [1] Nama terakir inilah yang sering muncul mengasuh program musik jazz di RRI Surabaya. Pada tahun 1951 Jack diterima bekerja di Angkatan Laut Republik Indonesia. Tugas sehari-harinya adalah menye-trika seragam pegawai. Di tempat ia bekerja, Jack bergabung pada kelompok musik pimpinan R. Iskak, ayah pemain film Indriati Iskak dan Alice Iskak. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1960, atas ajakan Wim Gontha, ayah Peter F. Gontha, Jack berangkat ke Jakarta. Ia diterima sebagai teknisi rekaman di perusahaan PH Irama milik Suyoso Karsono alias Mas Yos, seorang pensiunan Angkatan Udara RI. Inilah perusahaan piringan hitam pertama di Indonesia. Jack pun bergabung dengan grup musik Gema Irama.[2]

Eet Sjahranie

Zahedi Riza Sjahranie (lahir di Bandung, Jawa Barat, 3 Februari 1962; umur 51 tahun) atau lebih dikenal dengan nama panggilan Eet Sjahranie adalah musikus Indonesia. Sejarah Karier Eet Sjahranie selalu dihubungkan dengan kepiawaiannya memetik dawai gitar. Setelah Ian Antono, Eet disebut-sebut sebagai jawara gitar di tanah air. Imej itu memang layak disandangnya. Terlebih ia kini menjadi salah satu gitaris grup rock Indonesia yang cukup disegani, EdanE. Dilahirkan di Bandung, 3 Februari 1962 dengan nama Zahedi Riza Sjahranie, anak ketujuh dari kedelapan bersaudara ini mulai menyenangi musik saat menginjak usia 5 atau 6 tahun. Maklum kakak-kakanya sering memutar lagu-lagu barat, seperti Deep Purple, Jimi Hendrix, Led Zeppelin, The Beatles, hingga Bee Gees. Kendati diakuinya hal itu sedikit banyak memengaruhi kepekaan rasanya dalam bermusik, bukan gara-gara itu yang menggugah hatinya belajar gitar. "Justru yang membuat saya mendalami musik karena melihat Koes Plus. Asyik banget melihat aksi panggung Yok atau Yon Koeswoyo," ujar Eet mengenang. Awalnya ia belajar gitar dengan seorang anak yang jadi yang juru parkir di depan sekolahnya di Samarinda Kalimantan Timur, tempat keluarganya bermukim saat itu. Sehabis pulang sekolah, ia selalu mengajak sohib-sohibnya belajar gitar bersama. Sejak itu "secara alamiah saya belajar sendiri," tuturnya. Mulai dari lagu daerah, folksong, dangdut sampai lagu-lagu pop yang sedang populer saat itu ia coba untuk mencari akord-akordnya. Di masa kecil, sesekali Eet sering diajak ayahnya, Abdoel Wahab Sjahranie yang pernah jadi Gubernur Kalimantan Timur 1967-1977, ke Jakarta, sekalian mengunjungi kakaknya yang sedang studi di Ibukota. Sang kakak kebetulan mahir bermain gitar klasik. Kesempatan itu tidak disia-siakan Eet untuk mencuri ilmunya. "Lumayan ia mengajarkan satu lagu klasik," katanya Sekembalinya, Eet menunjukan kebolehannya di hadapan teman-temannya. Merasa mendapat perhatian lebih dari kawan-kawannya, Eet kian percaya diri untuk lebih mendalami teknik permainan gitar. Lagu-lagu yang rhythm dan petikan melodinya enggak gampang, ia jelajahi. Keinginannya pun semakin menggebu ketika orangtuanya membelikan gitar elektrik. Berbeda yang ia alami saat memetik gitar akustik, dengan gitar elektrik ia mulai tahu sound-sound aneh. Referensi musiknya sedikit demi sedikit mulai bertambah. "Orientasi saya tidak lagi dengar lagu-lagu Indonesia, tapi lagu-lagu barat. Kayaknya lebih asyik," tutur Eet. Pada 1978, keluarga Sjahranie boyong ke Jakarta. Ia melanjutkan sekolah di Perguruan Cikini. Tahu Eet jago main gitar, teman-teman sekolahnya yang suka ngeband mengajaknya ikut Festival Band SLTA se-Jakarta. Tak disangka, Eet mendapat gelar gitaris terbaik, sedang Cikini's Band menduduki peringkat kedua. Selain itu, Eet ikut membantu pengisi musik untuk operet sekolahnya. Di situ ia bertemu Iwan Madjid, yang lalu mengenalkannya dengan Fariz RM dan Darwin. Temu punya temu, mereka sepakat membentuk grup band, namanya WOW. "Tapi belum terealisir saya sudah kadung pergi ke Amerika," ujar Eet. (WOW sendiri sempat mengeluarkan album, minus Eet). Di negeri Paman Sam, Eet mengambil Workshop Recording Sound Engineering di Chillicote, Ohio selama tiga bulan. Selama di sana, ia banyak bertemu musisi Indonesia, yang juga sedang studi musik, antara lain kawan lamanya Fariz RM dan Iwan Madjid, serta Ekie Soekarno. Pertemanan mereka berlanjut sampai di tanah air. Dalam beberapa kesempatan, Eet kerap diajak rekaman. Saat Fariz RM menggagas proyek album Barcelona, Eet mengisi sound gitarnya. Atau waktu Ekie Soekarno membuat album Kharisma I dan Kharisma II. Saat menggarap album Ekie, Eet bertemu Jockie Surjoprajogo, yang lalu mengajaknya masuk God Bless, menggantikan posisi Ian Antono. Tak hanya sebagai player, Eet juga ditawari produser rekaman untuk menggarap beberapa proyek album solo rock. Dari beberapa nama yang diajukan, Eet memilih Ecky Lamoh. Alasannya, ia sudah tertarik dengan warna vokal Ecky sejak sama-sama mengisi album Kharisma-nya Eki Soerkarno. Tapi, Eet ingin format solo album diubah menjadi duo. Titelnya "E dan E", singkatan dari Ecky Lamoh dan Eet Sjahranie. Namun, di tengah jalan, kedua musisi ini malah membentuk grup band. Fajar S. (drum) dan Iwan Xaverius (bas) yang sejak awal ikut merancang konsep album mereka, diajak bergabung. Jadilah namanya berubah menjadi EdanE. Bersama EdanE, Eet mencurahkan kemampuannya dalam bermain gitar. Impiannya menjadikan grup rock, yang paling tidak secara musical sama kualitasnya dengan grup-grup rock dari luar, berusaha ia wujudkan. Hasilnya, semua orang mengakui Eet terbilang berhasil mempresentasikan musik rock yang bermutu. Sayatan-sayatan gitar yang bertehnik serta eksperimen distorsi sound-nya yang njelimet, banyak membuat orang berdecak. Maka, tidak terlalu berlebihan jika ia dijuluki salah satu kampiun gitar rock di Indonesia. Bersama EdanE, Eet telah banyak memiliki penggemar karena cara dia memainkan gitar sungguh tak dapat dipandang sebelah mata. Dalam debutnya bersama EdanE, Eet telah mengeluarkan 6 album. Diskografi The Beast Diproduksi oleh AIRO Records & EdanE (1992) Evolusi Ikuti The Beast Masihkah Ada Senyum Menang Atau Tergilas Life Opus #13 (Ringkik Turangga) Liarkan Rasa You Don't Have To Tell Me Lies Dalam abum ini warna EdanE dalam bermusik masih sangat garang karena aroma rock yang sangat kental. Formasi pada album perdana ini adalah Eet Syahranie (gitar), Ecky Lamoh (vokal) Iwan Xaverius (bass), dan Fajar Satritama (drum). Dalam album ini yang menjadi hits adalah "Ikuti" dan "The Beast" karena cara mereka mengarensemen musiknya sungguh sangat luar biasa dengan kegarangan Eet bersama uara melengking Ecky dan tak lupa dentuman drum Fajar yang dibarengi dengan cabikan bas Iwan, membuat para pecinta musik pada era tersebut merasakan ada nuansa musik baru yang menggetarkan jiwa. Namun itu semua tak berlangsung lama karena ada masalah intern dalam tubuh EdanE yang membuat Ecky harus hengkang dari EdanE. Namun demikian EdanE tetap berjalan terus. Jabrik Diproduksi oleh EdanE (1994) 1. Wake Of The Storm 2. Jungle Beat 3. Jabrik (Big Town) 4. Victim Of The Strife 5. Call Me Wild 6. Pancaroba 7. Kharisma 8. Way Down 9. I.X.S 10. Alam Manusia 11. Burn It Down 12. Kurusetra Dalam album ini bisa dikatakan EdanE seperti tak dapat tertandingi. karena dalam kepiwaian dan kepropesioanal masing masing mereka dapat menciptakan lagi album yang sungguh membuat bulu kuduk merinding. banyak sekali melodi yang sangar namun harmonis di ciptkan oleh eet dan juga tak lupa dalam Album ini mereka bertambah sangar dengan masuknya Heri batara kedalam formasi ini, dimana swara heri yang serak namun melengking itu membuat EdanE memiliki musik yang jarang di indonesia saat itu malahan mungkin hanya mereka yang memiliki warna seperti itu. Wake of storm, jungle beat, call me wild, pancaroba, waydown, alam manusia,jabrik, burn it down juga menampilkan kegarangan eet dimana soundnya dalam memainkan gitar tersebut sangat terasa sekali warna seorang eet yang sangat dikagumi. apalagi dalam album ini iwan xaverius juga memperlihatkan skilnya dalam hits nya I.X.S (Iwan Xaverius Solo), dan juga eet sjahranie yang memainkan musik sedikit melow namun tetap garang dalam album ini, apalagi kalau bukan victim of the strife, swara heri batara yang serak tersebut saat menyanyikan victim of the strife seperti mengingatkan kita pada musisi - musisi luar negeri van halen, yngwie malmsteen, deep purple, dll. Borneo Diproduksi oleh EdanE (1996) Borneo I - Borneo II Semua Begini Free Granny Mimpi Kebebasan Lari Lukisan Dunia Satu Sekali lagi EdanE meluncurkan album nya dan tetap dengan formasi Eet syahranie (guitar), Heri Batara (vokal), Iwan Xaverius (bass), dan Fajar Satritama (drum). Namun sedikit dibantu dengan addetional player yaitu fatah mardiko yang membantu heri batara menyanyikan lagu - lagu garang. Dalam album ini borneo dan semua begini sedikit memberikan nuansa daeraH kalimantan saaT awaL masuknya lagu ini. itu mungkin karena eet adalah seorang yang berasal dari kalimantan karena itu lah dia memberikan satu aransemen musik kalimantan. tak lupa juga saat lagu "satu" Eet memetik gitarnya dan menciptkan keharonisan dalam memainkan musik rock. Untuk sekali lagi EdanE masih tetap bertenggeR dalam musik rock Indonesia. 9299 (kompilasi) Diproduksi oleh EdanE (1999) Rock On Dengarkan Aku Ikuti Big Town Pancaroba The Beast Untuk Dunia Borneo Free Granny Sekali lagi EdanE tetap menciptakan lagu rocknya. walaupun daLam album kompilas ini banyak dicampurkan dengan lagu sebelumnya namun EdanE tetap menambaH beberapa lagu juga daLam alBum ini seperti Rock on, dengarkan aku, untuk dunia. 170 Volts Diproduksi oleh Jan Djuhana (2002) 170 Volts Kau Pikir Kaulah Segalanya Saksi Anarki Luzadis Hilang Bus Station Fitnah Lari II Bintang Masa Depan Goblog Kau Ku Genggam Paraelite Mungkin di album inilah EdanE mendapatkan masa kejayaan yang luar biasa. pasalnya dalam album ini EdanE melemparkan hits "Kau pikir kaulah segalanya", membuat para anak muda dan ABG yang ada di Indonesia menjadi sangar gemar untuk menyanyikan lagu ini.dalam album ini juga EdanE telah kontrak bersama Sony BMG dimana sebelumnya EdanE berada di bawah label aquarius. dalam album ini EdanE memiliki seorang vocalis yang sudah tidak asing dalam dunia rock. seorang Trison manurung Ex-roxx, band yang sempat membuat log zhelebouR memberikan penghargaan buat mereka karena mereka sempat membuat hits yang banyak dibawa oleh anak band di seluruh indonesia. Formasi mereka, yakni Eet Sjahranie (gitar), Trison Manurung (vokal), Iwan Xaverius (bass), dan Fajar Satritama (drum). Time to Rock (2005) Rock in 82 Kilat Takkan menghilang Cahaya Ini aku Cry out Time to rock Judgement day Time & time D14 Sampai Kapan Untuk Dunia Merasa musik mereka telah di gandrungi para aBg maka mereka segera mencoba melemparkan album lagi. dimana "rock in 82" menjadi hits-nya. namun dalam album ini EdanE tidak secemerlang album sebelumnya. akan tetapi EdanE tetap saja memiliki fans sendiri. karena dalam hits nya ia menceritakan tentang kehidupan anak muda saat zaman era rock 'n' roll yang masih kental akan melodi. tapi eet tetap saja selalu dan tetap selalu menjadi inspirasi bagi gitaris Indonesia. karena album - album yang dia telah lempar kedunia permusikan tetap selalu hidup dan tetap mendapatkan selalu penggemar yang baru. EdanE juga memasukkan intro album untuk dunia (intro) walaupun dengan bentuk berbeda.

Marty Friedman

Marty Friedman (lahir di Washington, D.C, 8 Desember 1962; umur 50 tahun) adalah seorang gitaris asal Amerika Serikat. Dia sudah rekaman sejak 1980 bersama grup band pertamanya Deuce, namun baru terkenal di dunia musik ketika ia bergabung dengan Megadeth pada tahun 1990.Namun setelah itu, ia keluar dari megadeth dan membentuk duo bersama Jason becker yang diberi nama cacophony. Bersama jason Becker, Ia mampu menunjukkan tingkat permainan yang sangat mencengangkan, kita bisa dengarkan di lagu go off. Ia sekarang tinggal di Jepang dan membawakan acara televisi Rock Fujiyama dan Jukebox English. Friedman belajar gitar sendiri, dan gayanya memadukan musik Asia dan Barat, mulai dari neo-classical, thrash metal, sampai progressive rock.

Senin, 27 Mei 2013

Chuck Berry

Charles Edward Anderson "Chuck" Berry (lahir di St. Louis, Missouri, 18 Oktober 1926; umur 86 tahun) adalah gitaris, penyanyi, dan penulis lagu Amerika Serikat. Chuck Berry adalah musikus berpengaruh dan salah seorang dari perintis musik rock and roll. Menurut situs Rock and Roll Hall of Fame, "Memang tidak ada tokoh yang bisa dikatakan sebagai pencipta rock and roll, namun Chuck Berry adalah tokoh satu-satunya yang bisa dikatakan paling mendekati, yang mengumpulkan semua unsur-unsur penting menjadi satu."[1] Cub Koda menulis, "Dari semua artis perintis rock & roll, di antara artis yang paling penting dalam perkembangan musik rock & roll adalah Chuck Berry. Ia adalah pencipta lagu sekaligus salah satu gitaris terbesar [dalam sejarah awal rock & roll] ...."[2] John Lennon bahkan berujar, "Kalau engkau mau memberi sebutan lain untuk rock and roll, kau boleh menyebutnya 'Chuck Berry'."[3] Berry termasuk di antara pemusik pertama yang dimasukkan ke dalam Rock and Roll Hall of Fame ketika museum tersebut diresmikan pada tahun 1986. Ia menerima Penghargaan Kennedy Center bersama-sama dengan artis ternama, Mikhail Baryshnikov, Plácido Domingo, Angela Lansbury, dan Clint Eastwood. Pada tahun 2004, Rolling Stone menempatkan Chuck Berry di urutan ke-5[4] dari daftar 100 Artis Terbesar Sepanjang Masa. Chuck Berry juga dimasukkan di urutan ke-6 daftar 100 gitaris terbesar sepanjang masa versi majalah Rolling Stone.[5] Tiga buah lagu Chuck Berry ("Johnny B. Goode", "Maybellene", "Rock & Roll Music") termasuk ke dalam 500 lagu terpenting dalam sejarah musik rock and roll.[6]

Nuno Bettencourt

Nuno Duarte Gil Mendes Bettencourt (lahir 20 September 1966) adalah gitaris Portugis, penyanyi-penulis lagu, dan produser rekaman. Dia terkenal karena perannya sebagai gitaris dari band rock Boston Extreme yang hitnya meliputi balada akustik "More Than Words" dan "Lubang Hearted". Lagu-lagu mencapai # 1 dan # 4, masing-masing, di Billboard Hot 100 singles chart pada tahun 1991. Dia telah tercatat proyek solo disebut Schizophonic serta dengan band-band yang ia dirikan termasuk Mourning Widows, Population 1, DramaGods, Partai satelit (dipimpin oleh Addiction Jane yang kemudian-mantan vokalis dan salah satu pendiri Lollapalooza Perry Farrell), dan kemudian kembali dengan Extreme untuk merekam musik baru dan tur. Sejak tahun 1990, Bettencourt telah memiliki garis sendiri gitar Custom dirancang oleh Washburn Guitars. Garis keturunannya dikenal sebagai N-Series, dan saat mempromosikan Washburn N4

Senin, 20 Mei 2013

Ian Antono

Ian Antono yang memiliki nama asli Jusuf Antono Djojo (lahir di Malang, Jawa Timur, 29 Oktober 1950; umur 62 tahun) adalah seorang musisi dan pencipta lagu yang juga salah seorang gitaris kelompok musik rock legendaris God Bless. Pada awalnya, Ian Antono merupakan seorang drummer. Namun setelah mendengar musik-musik The Shadows ia mulai berminat menjadi seseorang gitaris. Ia pun akhirnya bergabung dengan band Abadi Soesman yang waktu itu namanya cukup diperhitungkan. Tahun 1970 ia hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan band Bentoel yang menjadi pengiring bagi penyanyi Emilia Contesa dan Trio The King. Akhirnya tahun 1974 ia resmi menjadi gitaris God Bless dan merilis album-album seperti Huma Diatas Bukit (1975), Cermin (1980), Semut Hitam (1989). Nama Ian Antono mulai menarik perhatian karena pada saat itu atmosfer musik rock di Indonesia belum ada yang memulai. God Bless lah yang pertama kali mempelopori. Secara otomatis Ian juga menjadi gitaris pertama yang berkibar di jalur rock Indonesia. Setelah mundur dari God Bless dan Ian bergabung dengan grup Gong 2000 dan merilis album-album seperti Bara Timur (1991), Laskar (1994), dan Prahara (1996). Sewaktu masih memperkuat God Bless permainan Ian berbeda dengan semasa ia memperkuat Gong 2000. Di Gong 2000 ia banyak memasukkan unsur musik Bali. Hal itu dibuktikan pada setiap penampilannya, Ian setidaknya mengikutsertakan 20 musisi asli Bali. Tahun 1997, Ian kembali memperkuat God Bless dan berduet dengan Eet Sjahranie yang masih berstatus sebagai gitaris God Bless. Konsep double gitar ini cukup menarik perhatian meski pada akhirnya album "Apa Kabar?" gagal dipasaran. Ian Antono juga merupakan sosok seorang musisi yang produktif. Dalam setahun beliau bisa menggarap album untuk beberapa penyanyi. Banyak album yang tidak lepas dari sentuhan hangatnya termasuklah Iwan Fals, Anggun C. Sasmi, Nicky Astria, Doel Sumbang, Gito Rollies, Ebiet G Ade, Ikang Fawzi dan banyak lagi. Karya Ian Antono di arena muzik telah menerima banyak penghargaan. Antaranya ialah BASF Award (1987 - 1988) untuk Arranger Terbaik dan Komposer Terbaik untuk album Gersang (Nicky Astria), HDX Award (1989) untuk lagu Buku Ini Aku Pinjam (Iwan Fals), BAFS Award (1989) Album Bara Timur (Gong 2000) sebagai The Best Selling Album dan The Best Arranger & Composer, HDX Award (1994) untuk album Laskar (Gong 2000) sebagai Album Terbaik. Yang tidak kalah pentingnya adalah penghargaan dari Diamond Achievement Award atas dedikasi dan prestasi yang tinggi di industri musik pada tahun 1995. Sebuah pengalaman yang menarik bagi Ian adalah ketika pada tahun 1999 ia diundang oleh Ramli Syarif untuk ikut memeriahkan ajang Formula-1 di Malaysia. Bagi Ian ini bukan pengalaman biasa, pasalnya disana turut hadir pula grup kolaborasi dewa gitar dunia, G3 dan grup rock legendaris Jethro Tull. Dengan memanfaatkan sesi check sound, Ian mempelajari perangkat milik Steve Vai yang jumlahnya banyak. Dari situ ia menambah ilmu dan wawasan yang belum pernah ia dapatkan di Indonesia. Kebesaran nama dan kontribusinya bagi dunia musik Indonesia membuat para musisi muda Indonesia menggelar proyek album A Tribute To Ian Antono yang dimeriahkan oleh artis-artis musik Indonesia seperti EdanE, Sheila On 7, Padi, Gigi, Cokelat, Boomerang, /rif, dll. Ian Antono pada tahun 2007 ini sering memakai Gibson Les Paul standar dan juga Gibson SG double neck. Untuk perangkat latihan di rumah ia memakai Marshall, namun untuk LIVE dan rekaman di studio ia menggunakan Mesa Boogie. Tak ada efek macam-macam yang ia gunakan selain sebuah delay.

Sabtu, 18 Mei 2013

Yngwie Malmsteen

Yngwie Johann Malmsteen (Lars Johann Yngve Lannerback lahir pada 30 Juni 1963) adalah gitaris Swedia, penulis lagu, multi-instrumentalis dan pemimpin band. Malmsteen menjadi terkenal karena gaya bermain neo-klasik dalam logam berat. Steve Huey dari Allmusic menyatakan bahwa, "Yngwie Malmsteen ini bisa dibilang yang paling teknis dicapai gitaris hard rock Malmsteen lahir Lars Johann Yngve Lannerback di Stockholm, Swedia, anak ketiga dari keluarga musik-berbakat. Malmsteen telah menyatakan bahwa Jimi Hendrix tidak berdampak musik pada dirinya dan tidak berkontribusi terhadap gaya, tetapi kenyataan dari menonton pada usia tujuh 18 September 1970 TV khusus di mana Hendrix menghancurkan dan membakar gitarnya membuat Malmsteen berpikir: "Ini adalah benar-benar keren ". Mengutip situs resminya, "Pada hari Jimi Hendrix meninggal, Yngwie bermain gitar lahir" Pada usia 12 ia mengambil nama gadis Malmsten ibunya sebagai nama keluarganya, sedikit berubah ke Malmsteen, dan Anglicised ketiga diberi nama Yngve untuk "Yngwie". Malmsteen menciptakan band pertamanya "Melacak On Earth" pada usia 10, yang terdiri dari dirinya sendiri dan seorang teman dari sekolah pada drum (Armin).